Live streaming

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Walking in The Covenant of Grace

Setiap orang Kristen memiliki tahapan perjalanan rohani yang berbeda-beda. Karena perbedaan tahapan ini, maka kebutuhan makanan rohani setiap orang berbeda-beda pula.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 24 Maret 2011


 Generasi yang Memerlukan Keteladanan


Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya.
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Like father like son…

Semua peribahasa di atas bertemakan satu hal : perilaku anak adalah hasil dari teladan orangtuanya. Ini adalah sebuah kunci utama dalam pendidikan, yaitu KETELADANAN. Tidak ada tips, cara, tekhnik atau rahasia dalam mendidik anak dengan baik. Yang ada hanya keteladanan! Baik orangtua maupun guru, perlu memperhatikan kata kunci ini.

Mengapa demikian? Karena ada sebuah sifat dasar anak-anak yang menonjol, yaitu mencontoh. Anak-anak dapat dengan sangat mudah mencontoh apa saja yang dilihatnya, entah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, hanya dengan melihat perliku anak, kita dapat menyimpulkan seperti apa sifat orangtuanya.

Sebuah kisah dituturkan oleh Ko Den (Daniel Alexander) demikian : Alkisah, seekor anak anjing sedari kecil dipelihara oleh keluarga babi. Ia tinggal di kandang babi, makan makanan babi dan bermain bersama anak-anak babi. Setelah anak anjing ini dewasa, ternyata ia tidak berperilaku seperti babi, tidak bersuara seperti babi dan tidak berkubang di lumpur seperti babi. Anjing ini akan tetap berperilaku, bersuara dan hidup seperti selayaknya seekor anjing.

Namun, berbeda dengan manusia. Jika seorang bayi tinggal di sarang penyamun, dibesarkan dan hidup di sana. Besar kemungkinan, setelah bayi ini dewasa akan berperilaku seperti penyamun. Hal ini tidaklah mengherankan bukan?

Inilah sebuah sifat dasar dari manusia --- ia adalah peniru. Dan ini adalah salah satu kunci utama dalam mendidik anak dalam segala aspek, baik itu sopan santun, nilai-nilai moral, kerohanian, bahkan sampai kepada hal-hal praktis seperti cara makan dan berkata-kata.

Untuk mendidik anak yang berkomitmen tidak memerlukan resep atau urapan khusus. Orangtua hanya perlu menunjukkan dengan sejujur-jujurnya pada anak bagaimana ia menjalankan komitmennya. Hal ini juga dapat kita lihat secara kebalikannya, jika kita menemukan anak-anak dengan komitmen yang kuat, kita dapat memastikan orangtuanya juga demikian. Dan bilamana seorang anak lemah dalam berkomitmen, kita hampir dapat memastikan, orangtuanya juga demikian.

Membesarkan anak di masa serba canggih dan serba wah sekarang ini tidaklah mudah. Orangtua dituntut untuk ekstra disiplin atas dirinya sendiri. Generasi muda sekarang ini membutuhkan teladan yang LEBIH daripada generasi sebelumnya. Mereka hidup pada zaman dimana komitmen bukanlah lagi suatu hal yang harus menjadi prioritas. Melalui media dan lingkungannya, anak-anak cenderung dikondisikan untuk hidup mementingkan diri sendiri, mengabaikan hak orang lain, menurunkan standard kekudusan dan tidak menghormati orangtua.

Sejak dini, baik orangtua maupun guru perlu memberikan CONTOH (bukan hanya mengajarkan!) dan BUKTI dalam memegang suatu komitmen. Tunjukkan komitmen dalam hal rohani, misalnya berdoa dan membaca Firman secara konsisten, melayani di komunitas sel atau memberikan persembahan untuk pelayanan. Tampilkan juga komitmen dalam hal-hal yang jasmani, seperti menjaga keharmonisan pernikahan, menjalankan tugas atau pekerjaan dengan dedikasi tinggi atau sekedar disiplin dalam berbagi pekerjaan rumah tangga.

‘Pertunjukan-pertunjukan’ komitmen yang ditonton oleh anak-anak ini akan dengan mudah dikunyah, dicerna, dan dicontoh oleh mereka. Lebih lagi, tontonan yang berulang-ulang akan semakin mematrikan pentingnya berkomitmen dalam ingatan mereka. Ingatan ini akan mereka bawa seumur hidup dan menjadi pegangan atau patokan atas mereka. Bukankah ini sebuah warisan yang berharga?

Sebagai umat Tuhan, mari kita cetak anak-anak yang memiliki komitmen. Hal ini dimulai dari diri sendiri, baik sebagai orangtua atau guru, masing-masing memegang peranan penting. Dan percayalah, Tuhan pasti akan memampukan kita. (rud)

Selasa, 01 Maret 2011

Ajarku Bersyukur


Aku bersyukur untuk ruang makan yang kotor setelah menjamu teman-temanku, karena itu berarti aku dikelilingi banyak orang yang mengasihiku...

Aku bersyukur untuk pajak yang harus kubayar, karena itu berarti aku mempunyai penghasilan...

Aku bersyukur untuk pakaian yang mulai sempit, karena itu berarti aku mempunyai makanan yang cukup...

Aku bersyukur untuk halaman rumput yang harus dipangkas, jendela yang harus dibersihkan, dan selokan yang tersumbat, karena itu berarti aku memiliki rumah...

Aku bersyukur untuk keringat yang bercucuran setelah berjalan cukup jauh, karena itu berarti kakiku masih kuat untuk berjalan...

Aku bersyukur untuk suara fals seseorang yang terdengar dengan jelas ketika sedang bernyanyi di gereja, karena itu berarti aku memiliki pendengaran yang baik...

Aku bersyukur untuk alarm yang membangunkanku pada waktu subuh, karena itu berarti Tuhan masih memebriku kehidupan...

Aku bersyukur untuk otot yang pegal-pegal di sore hari setelah bekerja, karena itu berarti aku masih sangat produktif...



"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab inilah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
(1 Tesalonika 5:18)



Cara bijak untuk membuat BEBAN menjadi RINGAN adalah dengan MENGUCAP SYUKUR...